Posts

Detak Suatu Detik

Daftar isi [Tampil]

Detak itu menjadi saksi sebuah detik.
Detik di mana aku harus diuji untuk diam lebih lama, berpikir lebih lama, dan berujung pada memutuskan jalan mana yang akan kuambil.

Kemudian aku berlalu.

Berlalu dalam diam, berusaha meyakinkan dunia kalau tidak ada yang salah dengan langkahku.

Berlalu dalam senyum, berusaha meyakinkan sekitar kalau tidak ada yang berbeda dari gerikku.

Berlalu dengan topeng bernama tidak ada apa-apa dan semua baik-baik saja.

Aku, layaknya seseorang yang berjalan di tengah kerumunan orang yang tak perduli ada aku di sana, sehingga aku tak perlu takut akan diperhatikan. Karena nyatanya, tidak akan ada yang memerhatikanku. Kecuali kalau harapku berakhir indah.

Tapi detak itu tersangkut, bersama jantung yang memperingatkan, kalau ternyata aku masih mengalami detak yang luar biasa, kala detik itu dilewati. Ah detak, mengapa kau sungguh berani bersamaku yang padahal detik itu sudah tiada? Detik itu sudah lampau tapi mengapa detak ini masih tidak mau pergi? Jangan sampai kau ku jadikan kambing hitam atas semua perasaan ini, hai, detak.

Detik itu, bukan kali pertama aku berdetak. Detik itu, detik yang secara mutlak memang berbeda dengan detik tahun lalu, detik dua tahun lalu, tiga tahun lalu, empat, bahkan lima tahun lalu, tapi detaknya sama.

Maafkan aku. Biarkan aku yang bertarung sendirian, yang kalau memang perlu, akan aku hancurkan detak-detak yang masih ada, yang masih sama.

Post a Comment