Oktober, dan isinya.

Daftar isi [Tampil]
Sudah di akhir.
Merekam bulan ini ternyata menguras hati.

ya Rabb...


yang paling jelas rekamannya adalah soal tempat itu.
dua tahun di sana, bersama orang-orang terbaik dan tersayang, air mata kelelahan yang membuat rindu, teriakan perjuangan dan kemenangan, magnet alami yang dengan sendirinya menarik aku ke ruangan paling kiri deretan itu, semangat yang tak pernah klise, bertemunya aku dengan jiwa-jiwa yang sebenar-benarnya pemuda; tentang OSIS, semua ada.

tapi yang membuat menangis memang sudah datang. Angka dua puluh tiga bulan ini merealisasikannya. Setelah G, memang H, tidak bisa meminta dan memaksa statis pada G. Apalagi yang bisa dilakukan selain melepasnya, dalam keikhlasan? Toh orang-orang selanjutnya itu penjaga yang baik dan sayang juga kan sama tempat itu?

yap, bisa kok. Aku dan mereka memang mungkin kaget dengan aktivitas baru kami. Masih sering nostalgia sama semuanya, dalam canda kami pun, seriusnya kami rindu. Sejujurnya kami kangen sama masa-masa di dalamnya. Ya...sebelum benar-benar meninggalkan rumah ini.

*Oh ya, saksi bisu air mataku siang itu akan dirobohkan.


yang hampir menjadi kebiasaan.

Kali ini angka dua puluh delapan. Sudah duluan beradaptasi. Kesalnya, dalam adaptasinya masih kadang rapuh. Uniknya, kerapuhan satu ini obatnya : ditertawakan. Hmmmm.... saya harap saya baik-baik saja. Kok egois doainnnya saya aja? Ya, karena setahu saya, tinggal saya yang ga baik-baik aja, yang di sana sudah baik kan? Terlihat sangat baik malah. Alhamdulillah. hmmmm.... Semoga memang cepat menjadi suatu kebiasaan, cape kan kalau setiap ingat mesti netes, Rin?


yang menjadi selingan
Bulan ini juga punya selingan. Selingannya dalam. Kembali ke angka dua puluh tiga. Seharian. Hari nge-cas, hari peringatan ternyata waktunya sebentar lagi. Makara hijau? Semua masih bilang mimpi. Ga bohong hati saya juga bilang begitu. Ada yang lagi bertarung! Realistis VS Optimis. Saya sedikit muak dengan doktrin. Mau menangin realistis kek, mau menangin optimisnya kek, kadang pengen tutup kuping sehingga waktu mendengar, saya ganti dengan usaha maksimal. Boleh? Saya bukan melupakan faktor X atau Y atau Z kok, toh masih ada Dia, kan? Rabb... >< ah ketahuan banget galau maksimal soal ini.


yang membuat saya belum mulai lari
Masih ada 2 loh, tapi saya ga menyalahkan 2 hal itu. Toh udah porsi saya. I enjoy doing those activities. Saya cuma sedang iri kalau melirik mereka yang sudah jalan, bahkan berlari. Waaah saya masih di start nih, membenahi. Biar meninggalkannya tenang. Biar saat berlari nanti udah gausah nengok ke belakang. Tapi maaf, untuk mereka yang saya desak hari ini. Sungguh ini the real factor X. Udah 'tanggalnya', harap maklum. dan sekali lagi maaf. Saya tetap sayang kalian.


*****

*ada yang masuk*

dan sambil mengelus rambutku, keluarlah kalimat ini...

"Mbak Arin kenapa.....?"

Ah. Jawabku cuma lewat air mata, lagi.

Ayah, maaf untuk hari ini. Di saat seharusnya memupuk ketenangan keberangkatan Ayah Ibu besok, aku malah menciptakan kekhawatiran. Di saat seharusnya banyak pesan yang tersampaikan, niat itu kalian urungkan melihat aku hari ini.

:'(

aku benci bisa tidak sedewasa itu.

yang akan berbahagia menuju rumah-Mu besok
Angka tiga puluh. Semua do'aku untukmu, Ayah, Ibu. Terjawab akhirnya do'aku di sepertiga malam itu, terima kasih ya Rabb telah mengetuk mereka. Terimalah mereka, ya Rabb...

Tenang, Ma, Pa... Anak pertamamu tidak akan menelantarkan bungsu kesayangan kalian.
Tenang, Ma, Pa... Ikhtiar menuju cita-cita beberapa bulan lagi tidak akan berhenti.
Tenang, Ma, Pa... Lupakan sejenak urusan di sini :)
I love you.


the last...
Thanks to Bathriq Fatma Intifada, for supporting me today.
Thanks to Ghilandy Ramadhan, yang sebenarnya melebihi peka.

Post a Comment