Dingin

Daftar isi [Tampil]
Terhitung sudah 4 bulan setelah pengumuman itu, dan mungkin sakitnya masih terasa. Dik, sering aku ingin menguatkan, tapi kau selalu terlihat kuat di mataku. Walaupun aku tau, itu adalah usahamu menyembunyikan. Dik, sering aku ingin melontarkan semua kata motivasi terbaik yang pernah aku tau, untukmu. Karena selama ini, koar-koarku hanya di sekolah kehidupan itu, jarang kau kecipratan.

Ternyata ini jawaban do'aku. Kau memang harus dijatuhkan (dahulu) terlalu dalam oleh-Nya. Sesaat hatiku gemetar, tangisku pecah, ketika 040 tidak ada di sana. Semakin pecah ketika mengingat 2 tahun lalu, ungkapan tangis bahagiaku karena 234 ada di sana. Dik, aku sedih!

Kesedihanku lebih dari sekedar anggapan orang kalau kau-tidak-pantas-di sini. Mungkin kamu bisa menyangkalnya, dan bisa membuktikan sendiri SECARA NYATA, kalau kamu bukan tidak mampu. Tapi dik, jauh di atas itu semua, aku sedih karena ternyata, Dia belum mengizinkanmu merasakan atmosfer kehidupan sekolah ini. Tidak merasakan bagaimana fisik dan hatimu mengangkat kedua roti di akhir minggu sarat makna itu, tidak melihat 13 pembentuk angkatanmu, tidak berlomba-lomba mencari hikmah terbaik setiap saatnya. Tapi, aku ga berhak marah kan pada-Nya? bahkan kamu juga. Kamu juga seharusnya tidak, dan jangan pernah sedikitpun.

Dingin. Ya, sifatmu yang dingin semakin dingin karena hari itu.
Ibu sering bercerita kepadaku, "curhat" tentangmu, bagaimana menanganinya, mungkin Ibu berharap, anak pertamanya bisa "menyampaikan" motivasi untuk si bungsu. Maaf, aku ga pernah berhasil. Dinginmu membuatku bingung cara menanganinya seperti apa. Kamu bukan tipe pendengar nasehat, walau kau sebenernya butuh, sangat malah.

Minggu lalu....
di salah satu lingkar di jum'at siang, dua orang adik bercerita....

Adik pertama
"Saya lagi merasa kehilangan kakak, teh.... dia kan sekarang kuliah di Bandung, jadi di rumah sepi. Ga ada yang nganter ke sekolah lagi, biasanya becanda bareng, tapi kalau aku udah marah, dia pasti ngalah, terus suka rebutan laptop, tapi sekarang aku main laptop sendiri. Dia tuh baik banget, kalau misal nih lagi tidur, tapi aku maksa minta anter, dia rela bangun buat nganter aku, padahal aku tau cowo kan paling males diganggu tidurnya....aku sekarang kangen teh."

dan dia bercerita itu dalam tangis.

Adik kedua
"Masku itu, teladan aku teh. Motivasi buat aku, walaupun mas jauh (re: di Jepang) pasti selalu nyempetin buat nanya keadaanku, apalagi lagi regenerasi ***S gini, mas paling semangat dan bantu aku buat ngomong sama mama, biar aku dibolehin pulang malem. karena mas ngerasain dulu waktu jadi organisator di Smansa. Mas ngerti banget keadaan aku sekarang, dan pengen aku bs kebentuk sama organisasi smansa. Tapi waktu mas pulang, mas ngajak main aku, tapi akunya males. sekarang bagian mas udah balik ke Jepang, aku kehilangan..."

dia juga bercerita dalam tangis. Tapi ditambah aku yang berkaca-kaca. Ketika itu, aku ikut sedih, aku pun merasakan perasaan yang sama dengan kakak-si-adik-kedua. Aku tau benar bagaimana seorang kakak yang ingin adiknya "merasakan" hidup di sekolah ini. Itu yang membuat aku tiba-tiba ingat kamu, dik, dan rasanya "nusuk", lagi. Aku punya banyak adik di sekolah kehidupan ini, aku sayang mereka, karena lebih dari setengah hariku, kuhabiskan di sekolah ini. Tapi dik, pernahkah kau cemburu? Karena bahkan, aku ga pernah mengutarakan kepadamu LANGSUNG kalau aku sayang kamu. Aku ga pernah memberikan SEMANGAT, bahkan yang tersurat sekali pun kepadamu.

Tapi jauh di atas itu, do'aku ga pernah putus.

Dik, dewasalah. Hanya dengan itu kamu bisa menerima apa yang hatimu ga terima. Hanya dengan itu kamu bisa kuat atas segala kelemahan hati. Hanya dengan itu kamu bisa ambil banyak pelajaran yang kau tutup karena kekecewaanmu.

Karena sesungguhnya seorang sukses, itu tergantung dirinya. Dan itu berarti tergantung kamu. Ayah, Ibu, dan kakakmu bukan tidak peduli, kalau kamu tau, kami adalah orang-orang yang lebih kecewa daripada kamu. Tapi, Dia-lah yang memegang takdirmu. Dia yang sudah punya arah. Jalani, lanjutkan, dan inilah hidup. Permainan anak-kecilmu mungkin selama ini membutakanmu dan membuatmu lupa kalau KAU sudah sampai pada waktu belajar dewasa. Telan, nikmati. Masih ada ujung yang bisa menjadi indah, kalau kau mampu menjadi "pemenang" ujian-Nya.

dan, Insya Allah.FTSL ITB 2014, diisi oleh seorang adikku yang dewasa.


Saya sayang kamu,
Bayu Beta Brahmantio.

2 comments

  1. :') Sama. Terlalu sama. Jarak yang terbentuk saat ini dengan 'yang terdekat' juga sejauh itu. Membacanya seakan membaca cerita gw sendiri. Gw kira tiba-tiba gw punya asma karena rasanya nyesek #fail Gw hanya bisa berharap mereka sama-sama bisa belajar; atau bahkan sama-sama bisa merasakan nikmatnya ada di lingkaran yang sama dengan kita. Sekalipun tidak, setidaknya lingkaran yang serupa, di mana pun itu. Gw hanya bisa berharap demikian. Amin.
  2. wah Rin, mengharukan. Antara sang kakak dan si adik. hmm....